Konten dari halaman ini Petani Sayur Beralih Profesi, Modal Nekat Kini Omzet Capai Ratusan Juta - Prokalteng

Melihat Usaha Budidaya Madu Borneo Mellifera di Palangka Raya

Petani Sayur Beralih Profesi, Modal Nekat Kini Omzet Capai Ratusan Juta

- Advertisement -

Usaha madu olahan di Palangka Raya, bagi Budiyana (43) menjadi peluang besar bagi bisnisnya. Pasalnya, belum ada yang memulai budidaya lebah madu pada saat itu. Melalui bisnis yang digelutinya, omzet dari hasil madu alami tersebut mencapai Rp 500 juta dalam setahunnya.

———————————————

Muhammad Hafidz, Palangka Raya

LOKASI budidaya lebah madu milik Budiyana berjarak 20 kilometer dari pusat Kota Palangka Raya. Memakan waktu 20 menit, penulis baru tiba di lokasi kios Madu Borneo Mellifera milik Budiyana (43) yang merupakan satu dari sekian pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) binaan Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Palangka Raya.

Tiba di lokasi, kios olahan madu milik Budiyana, berbagai produk hasil madu alami terjejer rapi di etalase kios Jalan Bereng Bengkel, Gang Pepaya, Kelurahan Kalampangan, Kecamatan Sebangau. Di belakang kios, terdapat sekitar puluhan kotak lebah madu yang tersusun rapi untuk dibudidaya.

Di kios tersebut, berbagai produk madu dikemas dengan botol bertuliskan “Borneo Mellifera” dengan logo berbentuk bulat dan termuat gambar pulau Kalimantan. Pada gambar pulau Kalimantan yang terbilang besar, termuat wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) yang ditandai dengan warna orange.

Budiyana mengaku sebelum mengembangkan usaha lebah madu, awalnya ia bekerja sebagai petani dan penjual sayur di pasar. Ia sendiri termotivasi untuk memulai bisnisnya karena melihat kondisi alam di Kalimantan dan tak ada orang yang memulai budidaya lebah madu. Ia pun memulai bisnisnya dari rumahan.

“Awalnya belum ada (budidaya lebah madu,red) , sebelumnya saya bekerja petani sayur, dan penjual sayur di pasar. Kita punya pick up ini. Pick up itu untuk memulai usaha lebah madu tadi,” ujarnya, kepada prokalteng.co, Minggu (7/5).

Dari usaha yang dirintisnya,  Budi mulai menghasilkan pundi-pundi rezeki pada tahun 2016. Penghasilan tersebut akhirnya menjadikan ia tak lagi berjualan sayur dan fokus ke usaha budidaya madu.

Produk madu  tak hanya dijual secara langsung. Melainkan dijual melalui media sosial dan akun whatsapp. Berbagai produk hasil madu alami seperti madu hitam, madu asli Borneo Mellifera, madu kelulut, dan Madu Wine.  Harganya pun bervariasi, dari yang paling murah Rp.50.000 hingga paling mahal Rp.500.000.

“Kita ingin berbagi ilmu, karena saat itu tidak ada peternak lebah yang memulai dan saya mulai dulu. Ada beberapa pilihan karena tidak punya modal, paling tidak ulet dan telaten. Kunci suksesnya di situ. Saya gak punya modal, tetapi saya ulet dan usaha ini bisa bertahan. Paling penghasilan awal sedikit perbulan 1 juta hingga 2 jutaan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Omzetnya masih sedikit,” imbuhnya.

Puncak dari omzet tertinggi yang diraihnya, terjadi pada tahun 2019 hingga 2021. Omzet penjualan madu, pernah mencapai Rp. 500 juta hingga Rp. 600 juta dalam setahun pada tahun 2019.

Bahkan, pada tahun 2020 ia pun akhirnya memilih untuk mengembangkan usahanya dengan membangun kios yang kini sebagai tempat budidaya lebah madu dan menjual madu olahannya. Dan pada tahun yang sama, ia juga mulai mendaftarkan usahanya untuk menjadi binaan BRI.

“Puncaknya di tahun 2019 sampai 2021 tertingginya. Omzet kadang tembus 1 tahun Rp 1,5 m tahun 2019, tapi tak hanya penjualan madu secara global, jasa pengadaan proyek pemerintah atau proyek perusahaan, yakni jasa pelatihan dan memberikan ilmu ke masyarakat yang menjadi penunjang omzet. Kalo omzet madu sekitar Rp. 500 juta sampai 600 juta,” jelasnya.

Sebelum mengenal bisnis lewat daring, kata Bapak yang memiliki 6 anak menjualkan produknya melalui kegiatan pameran UMKM atau menaruh lapak di tempat kegiatan Car Free Day (CFD). Pameran yang dihadiri tak hanya di Palangka Raya, bahkan sampai ke luar kota dan luar Pulau Kalimantan.

“Pemasaran sebelumnya kita mengikuti kegiatan pameran-pameran, ataupun buka di CFD keliling. Tak hanya terbatas di Palangka Raya tapi sampai ke Sulawesi, Bandung, Samarinda, Kalimantan Barat dan Semarang. Kalau ada pameran ikut,” ungkapnya.

Setelah ia mengenal penjualan secara daring melalui market place, omzet penjualannya mengalami peningkatan yang lumayan signifikan. Terlebih di tengah kondisi Covid-19 yang saat itu membatasi pertemuan dengan banyak orang. Kebanyakan, ia memilih aplikasi media sosial menjadi tempat pemasarannya, daripada aplikasi marketplace.

“Peningkatan lumayan signifikan saat Covid-19, biasanya hanya kisaran per hari 10 sampai 20 botol, yang saaat itu sudah capai lebih dari 100 botol. Langsung ke pihak rumah sakit atau dinas yang membutuhkan jadi mereka menambah stamina karyawan yang membeli. ada yang lewat daring, ada yang berkunjung, ada juga yang lewat nomor whatsapp langsung,” tambahnya.

Terkait belanja melalui market place, Budi mengakui mengalami kendala ihwal  ongkos kirim (ongkir). Pasalnya harga pengiriman barang dari Palangka Raya ke luar Kalteng dianggap terlalu tinggi.

“Harga madu misal Rp.100.000 ongkirnya bisa Rp. 40.000. Orang di luar akhirnya berpikir waduhnya ongkirnya hampir separo mending beli langsung,” keluhnya.

Namun demikian, ia mengharapkan adanya pembelajaran bagi para pelaku usaha terkait literasi digital untuk menunjang usahanya.

“Kalau digital memang kebanyakan UMKM seperti kita ini masih belajar terkait digital, harapannya terkait ilmu ditambah lagi terkait digital buat kita seperti membuat website dan lain-lain kebanyakan masih kurang untuk hal seperti itu, dan internet marketing,” tandasnya. (*)

- Advertisement -
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HUKUM KRIMINAL

Recent Comments